Masih terngiang di telingaku kata-kata yang membuat hati kecil ku bergejolak. Tadi pagi sewaktu di kelas, seorang guru menyarankan agar kami nanti menyontek ketika tidak mengerti jawaban saat mengerjakan Ujian Nasional yang akan di helat seantero nusantara pada tanggal 22 April 2008. Memang aku adalah tipe murid yang menjadi sentral dalam hal contek mencontek, bahkan aku sudah merencanakan dengan teman sekelas untuk mencari joki yang akan membantu pelaksanaan ujian kami. Namun, tadi adalah pengalaman yang paling aneh yang terjadi semasaku di SMA. Seorang guru yang menyuruh muridnya untuk menghalalkan hal tersebut demi lulus Unas.
Allahuakbar-Allahuakbar..
Suara adzan menggema ke seluruh antero Surabaya.
Tampak sebuah masjid besar berkubah hijau di pinggir jalan Wiyung ini. Aku menekan tombol reeting sepeda motorku dan berbelok ke arah tempat parkir masjid Al-Hikmah. Saat aku turun dari sepeda motor aku melihat seseorang tukang becak yang ikut memarkirkan becaknya di parkiran untuk menunaikan sholat ashar berjamaah. Wajahnya terlihat seperti seseorang yang begitu kerasnya berjuang melawan penderitaan hidup, rambutnya agak jarang namun berjanggut sedikit lebat. Aku mengamati gerak-geriknya dari jauh. Sepertinya aku tertarik pada sosok kurus tersebut. Ada sesuatu yang menarik dari sosok tersebut. Aku bertanya pada hatiku. Apa yang menarik ya? Biarlah.
Setelah selesai sholat ashar, saat kulangkahkan kakiku keluar masjid aku bertemu sosok tadi. Sosok tersebut terlihat duduk-duduk diteras masjid melepas peluhnya. Aku memberanikan diri untuk duduk di sampingnya dan menyalaminya.
”Assalamualaikum pak” Sapaku sambil ku ulurkan tangan kananku.
”Wa alaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh” dan tangannya langsung menggapai uluran tanganku dan langsung diggengamnya.
”Sekolah dimana dik??”Sosok tersebut bertanya kepadaku yang masih menggunakan seragam SMA.
”Saya sekolah di Sma Negri 99 pak”
”Sudah kelas berapa??”
”Saya sudah kelas tiga, sebentar lagi saya akan melaksanakan ujian nasional. Tolong doakan saya ya pak.”
“Jika kamu Ingin sukses dalam unas, ada sebuah kunci yang harus kamu pegang selalu mulai saat ini” Nasihat si bapak penuh wibawa
Wajahku langsung aku tolehkan ke arah mukanya dan kutatap matanya dengan keheranan. Orang yang baru aku kenal dan hanya seorang tukang becak ingin menceramahi diriku yang sudah berpendidikan ini.
”Apakah kunci itu pak?” Tanyaku denagn nada keheranan.
”Kuncinya hanya satu. Yaitu berlaku JUJUR disaat mengerjakannya!!.”
Aku mereview kembali pengalaman hidupku selama ini. Selama ini, aku adalah tokoh sentral dalam ketidak jujuran mengerjakan ulangan. Bahkan aku sudah merencanakan untuk memesan joki. Namun saat ini, ada seseorang yang melarangku untuk tidak melakukan hal tersebut.
”Pak saya takut, saya belum bisa berlaku jujur dalam ulangan”
”Apakah kamu benar-benar ingin sukses??” Tanyanya serta menatap mataku dalam-dalam
”Ya sih, tapi….”
”Mau Sukses tidak??!!!” tanyanya dengan nada membentak.
”tapi..”
”kalau ingin sukses, lakukan apa yang tadi saya katakan!!!!” bentaknya untuk meyakinkan diriku.
”Memang apa ruginya mencontek?” Tanyaku dengan nada meremehkan.
”Kalau kamu dari kecil sudah tidak jujur bagaimana bila sudah besar?. Kamu akan berkembang menjadi seorang koruptor. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hal yang diinginkan. Memangnya apa untungnya menjadi koruptor??. Kamu pikir hidup mereka tenang??. Sebenarnya setiap saat pikiran mereka dihantui oleh bayang-bayang dosa yang telah ia lakukan. Begitu pula bila kamu menyontek saat ujian dan mendapatkan nilai yang sempurna saat ujian. Misalnya, kamu mendapat nilai sempurna dalam pelajaran bahasa Inggris. Lalu ketika kamu masuk didunia perkuliahan, seorang dosen menguji kamu dengan soal-soal TOEFL. Lalu kamu tidak bisa mengerjakan apapun pada saat itu. Apakah kamu tidak akan menyesali bila terjadi hal seperti itu di kemudian hari??”
”Nama bapak siapa?”
”Panggil saja aku Pak Zahid. Aku adalah mantan narapidana yang dipenjara karena kasus korupsi. Di penjara aku baru tersadar bahwa rezeki itu ditentukan oleh Allah. Kita tidak boleh menghalalkan segala cara dalam memperolehnya. Wong cicak yang makanannya nyamuk saja tidak protes karena makanannya memiliki sayap sedangkan ia hanya menempel didinding. Namun toh Allah berlaku adil. Populasi cicak tidak mengalami kepunahan akibat hal tersebut. Maka dari itu saya lebih memilih pekerjaan yang halal meskipun hanya menjadi seorang tukang becak”
Jarum panjangku menunjukkan pukul 15.30. Jam empat nanti aku ada les bahasa inggris dirumah. Aku mengundurkan diri kepada sosok mengagumkan tersebut.
888________________888
Jam 08.00 malam. Ruang kamarku.
Besok tryout Bahasa Indonesia dan Matematika. Sosok berjanggut kemarin masih bergentayangan di dalam benakku. Semalam aku tidak bisa tidur. Pikiranku masih dihantui bayang-bayang yang akan diakibatkan oleh pekerjaanku. Ceramah darinya kemarin seakan mengetuk bahkan menggebrak relung hatiku yang selama ini tertutup. Inilah kebenaran. Mencontek adalah kesalahan terbesar. Suara hatiku mengangguk angguk mengakui hal yang diutarakan oleh Pak Zahid kemarin.
Saat ini aku merasa sedang dilemma. Di satu sisi, aku takut tidak lulus, namun disatu sisi, aku merasa Pak Zahidlah yang benar. Aku mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat isya. Setelah sholat rasanya aku semakin terngiang-ngiang oleh petuah Pak Zahid. Didalam hatiku, aku semakin yakin bahwa apa yang dikatakan dari mulut seorang tukang becak tersebut adalah benar. Baiklah, akan aku coba, Mulai saat ini aku tekadkan dalam hati untuk menjajal petuah dari Pak Zahid. Apa salahnya dicoba.
Akhirnya pada malam itu aku mencoba untuk belajar semampuku. Namun masih banyak materi ulangan yang aku pelajari kemarin belum aku kuasai.
888________________888
H-7 Unas. Tryout pertama ku di sekolah..
Jam 08.00. Ruang kelas XII.IA.8
”Jar,.. Nomer dua tiga.” Randi yang duduk diseberang kananku berbisik kepadaku.
Aku pura-pura tidak dengar. Aku sudah bulatkan tekad untuk meninggalkan hal buruk tersebut.
”Jaaaar……, Jaar,…jar.” bisiknya lebih keras.
”Randi!! Kamu menyontek ya??!!. Sini duduk depan.” Bentak Pak Subkhan sambil mengangkat kaca mata tebalnya.
Akhirnya Randi duduk di bangku persis didepan Pak Subkhan. Seluruh isi kelas menyorakinya.
”Huuuuuu.. huuu” Sorak seluruh anggota kelas.
”Sudah, yang lain tetap mengerjakan” Bentak Pak Subkhan
888________________888
Sepulang sekolah, aku membahas soal tadi di teras Masjid dengan teman-teman yang lebih pintar. Setelah dicocokkan ternyata kira-kira aku hanya mendapat nilai 25 dalam pelajaran matematika dan 44 dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Padahal biasanya bila aku bekerjasama dengan teman sekelas nilaiku bisa mencapai 75 bahkan 90.
”Fajar!!!.. Kita harus membuat perhitungan” Randi tiba-tiba datang dengan membentak. Ia datang melabrakku
”Hai . Ada apa Ran?” Aku pura-pura tidak tahu.
”Sini kau.” Ia menarik tanganku. Aku dibawa ke tempat sepi kebelakang masjid di depan gudang sekolah.
”Mengapa kamu pura-pura tidak dengar sewaktu tadi hah??” Tangannya mencengkram kerahku.
”Memang kenapa?”
Sebuah kepalan tangan mendarat di pipi sebelah kananku.
”Gara-gara kau tadi, aku disuruh duduk didepan. Sekarang kau mau berkilah?”
Sebuah tendangan keras mendarat tepat di perutku.
”Ahh..” Aku merintih menahan perih.
” Ini sebagai balasan setimpal terhadap orang sombong sepertimu.”
Aku pingsan dan setelah maghrib saat sekolah sudah sepi aku baru tersadar. Aku dibangunkan oleh penjaga sekolah yang menemukanku dalam keadaan pingsan.
888________________888
Rumahku. Di halaman rumah.
Aku buka pintu gerbang dan memarkirkan sepeda motorku. Rumahku sepi. Tiada orang. Kemana semua orang?. Tanyaku dalam hati. Pintuku terkunci rapat. Aku mengambil kunci rumah di tasku. Aku selalu membawanya untuk saat saat seperti ini. Setelah aku masuk aku langsung menunaikan sholat isya. Ingin rasanya aku mengadukan hal yang kualami hari ini. Setelah selesai solat aku merenung. Baru berlaku jujur kali ini namun bertubi-tubi masalah yang kuhadapi. Mulai dari nilai yang jeblok hingga dianiaya oleh seorang siswa. Rasanya hari ini hatiku sedih sekali.
”tit.tit.. tit tit” sebuah Sms terpampang di handphoneku. Aku langsung melipat sajadahku dan lompat ke meja belajarku unutuk meraih handphoneku. Ternyata dari kakakku.
Kak Salsabila 081xxxxxxxxxx:
Assalamualaikum. Dik, tetap tegar ya.. jangan sedih ya. .hadapi apapun dengan tenang dan tawakkal kepada Allah..
Aku membalasnya:
Waalaikum salam.WW. Oke bos.. Btw kakak dimana pulang kapan? Ibu ma Ayah kemana juga? Ntar aku kunci ni pintunya.
Kakakku membalasnya:
Ntar jam 09.00. tunggu kakak ya jangan tidur dulu lho..
888________________888
Jam 09.30
Sosok wanita berjilbab berwajah manis yang menjadi idaman setiap lelaki berdiri didepan pintu. Itu adalah kakakku. Aku membukakan pintu. Aku melihat mata kakakku sembab seperti orang yang habis menangis.
”Kak, kok telat sih pulangnya?? Ibu ma Ayah kemana?. Habis nangis ya kak? Habis diputusin pacar? Oh ya.. kakak kan ga punya pacar. Be te we, Ibu ma Ayah kemana?.” Tanyaku dengan berondongan.
Kakakku memelukku erat-erat lalu mengajakku duduk di sofa
”Dik, tolong dengarkan baik-baik ya.. Mulai saat ini kita harus saling bekerja sama jika ingin tetap hidup” air mata kakakku mulai meleleh
”memang ada apa kak?” tanyaku polos
”Ayah dan Ibu telah tiada… Beliau berdua mengalami kecelakaan mobil setelah menjemput Ibu mengaji di masjid Al-Falah. Tadi kakak dari mengurus jenazah beliau di rumah sakit. Dan akhirnya…..huh..” Kakakku bercerita sambil air matanya mengucur deras. Ia tidak sanggup bercerita lagi.
Air mataku pelan-pelan meleleh dan mengucur deras.
888________________888
Jam 01.30
Kakakku membangunkan aku. Ia mengajakku untuk menunaikan sholat tahajjud. Air mataku mengalir deras ketika aku bersujud.
Ya Allah engkau tidak adil.
Aku baru mencoba untuk kembali ke jalan mu.
Tapi kau berikan aku cobaan yang berat seperti ini
Mengapa saat satu minggu sebelum Ujian??
Aku tidak kuat ya Allah.
Rasanya aku ingin mati saja.
Setelah sholat tahajud. Kami duduk bersimpuh. Di tengah keheningan malam. Kami menyerahkan segalapersoalan kami kepada Allah. Kakakku memimpinku untuk mendoakkan kedua orang tua kami. Tidak terasa, air mata kami meleleh. Kakakku terbata terisak-isak dalam memimpin doa kami.
”Rabighfirly waliwalidaya warhamhuma kama rabbayani Shagiyra..”
Setelah itu kami mendoakan mereka berdua. Aku membuka-buka mushaf al-Quran-ku. Aku mencoba membaca nya sambil terisak-isak.
Ayat pertama: Surat Al-Baqarah 286
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”
Ayat kedua: Surat Al-Imran ayat 139:
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.
Ayat kedua: Surat Ar-ra’d ayat 11
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
Pada saat itu aku merasa becakap-cakap dengan Allah melalui surat cintanya. Saat itu aku merasa Allah menurunkan rahmatnya dan memasukkan rasa ketenangan ke dalam relung batinku. Dalam hati aku bertekad.
Ayah Ibuku, Lihatlah putramu.
Aku akan berusaha sekuat tenaga.
Aku akan persembahkan hal terbaik kepada kalian berdua
Air mataku lagi-lagi meleleh membasahi pipiku. Bulir air mataku jatuh membasahi lembaran Al-Quran yang aku baca.Aku tersungkur sujud. Merasa diri yang hina ini telah sekian lama mendurhakai perintah-Nya.
Setelah itu aku tertidur sambil menunggu adzan shubuh. Didalam mimpiku aku melihat ayah ibuku menghampiriku dan mengatakan kepadaku.
”Perbuatanmu itu adalah sebuah kebenaran. Tetaplah teguh berjuang wahai anakku. Jangan putus asa. Allah maha melihat perbuatan hamba-hambanya.”
Setelah itu ayahku mengelus-ngelus rambutku dengan pelan seraya berkata
”Ayah bangga memiliki anak sepertimu Fajar.”
888________________888
Setelah itu aku mati-matian untuk belajar. Saat pelaksanaan Unas, aku membulatkan tekad untuk berlaku jujur dan meniatkan hanya kepada Allah. Karena aku tidak ingin hanya menuhankan nilai yang tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kekuasaan dan kasih Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Setelah ujian aku hanya bisa bertawakkal kepada-Nya. Aku hanya minta diberikan yang terbaik. Bahkan dalam doaku, aku berdoa:
”Ya Allah, saat ini aku hanya bisa berharap kepada-Mu. Aku akan ikhlas apapun yang terjadi. Bahkan jika engkau tidak mengijinkanku lulus dalam ujian kali ini. Bila hal itu menjadi hal yang terbaik bagi masa depanku, agamaku, dan bangsaku, hambamu yang hina ini akan ridha.” tidak terasa kulelehkan air mataku.
Saat pengumuman tiba. Aku mendapatkan nilai yang hampir sempurna. Tiga buah nilai 100 dan tiga buah nilai 99. Aku tersadar. Allah maha adil. Allah tidak akan mengecewakan hamba-Nya. Saat itu aku tersungkur sujud untuk bersyukur dan membaca hamdalah berkali-kali. Tiba-tiba aku teringat kepada Pak Zahid yang telah menasihatiku dan membuat Allah memberikan cobaan kepadaku. Cobaan agar aku menjadi lebih baik. Pertanyaan bagi kita adalah: apakah kita harus menunggu hal-hal seperti diatas untuk berubah??. Mari renungkan kawan.
888________________888
Abdullah Anshary.